“Saat dimana aku akan berpacaran… saat dia pergi meninggalkanku aku dapat merelakannya… saat dia menemukan yang lebih baik dariku aku dapat ikhlas… saat dia berlalu aku dapat melepaskannya.. saat dia menyakitiku aku dapat memaafkannya.. saat dia menduakanku aku dapat tersenyum… ” Aku harus bagaimana. Aku masih saja bingung dengan semuanya. Aku masih tidak berani untuk mengatakan iya ataupun tidak. Aku terkadang berpikir kurang dewasa apa aku? Atau harus diusia berapa lagi aku baru berani mengatakan iya untuk menyambut cintanya. Sementara usiaku sekarang ini sudah menjalani 24 tahun. Bukan usia yang muda lagi. Entahlah…aku lelah dengan kata-kata cinta itu. Lingkungan ku, sahabat-sahabatku semua sudah mempunyai setidaknya pacar. Sementara aku untuk mengambil keputusan berpacaran saja sampai diusiaku sekarang ini masih belum bisa dan tidak mempunyai keberanian. Aku tidak bisa menjamin kalau aku bakalan tidak sakit hati saat dia meninggalkanku, tidak ada sumpah serapah saat dia memilih berlalu dariku dan tidak ada tetesan airmata saat dia menyakitiku. Aku ingin disaat dia meninggalkanku aku dapat menerimanya dengan ikhlas, saat dia berlalu tidak ada rasa sakit hati dan saat dia menyakitiku aku mampu tuk tersenyum. Tapi sampai kapan aku bisa seperti itu?. Seperti malam tadi. Lagi-lagi aku harus bertengkar dengannya hanya karena dia membahas tentang cinta dan mengingikanku tuk jadi kekasihnya. Aku mengerti dia begitu tulus padaku tapi tetap saja aku tidak bisa menerima dia. Aku bingung sendiri. Terus terang aku belum pernah sekalipun berpacaran sampai saat ini. Aku begitu kaku apabila diajak ngomong tentang pacaran. Kalau dibilang trauma tidak. Keluargaku cukup bahagia. Aku mempunyai keluarga yang harmonis. Tidak ada alasan bagiku untuk mengatakan aku trauma atau sejenisnya. Apakah pemikiranku yang terlalu jauh dan kolot. Aku tidak punya pandangan positif terhadap pacaran. Aku selalu beranggapan kalau pacaran itu bakal mengekang kebebasanku, bakal membatasi pergaulanku, bakal menyita waktuku dan pacaran itu tidak menjamin kebahagian dalam membina rumahtangga nantinya. Jadi segi positif apa yang dapat ku ambil dari berpacaran. Itulah alasan mengapa aku begitu anti dengan yang namanya pacaran. Tapi lagi-lagi dia semakin gigih menyakinkanku kalau dia itu serius dan tidak cinta monyet. Aku masih saja tidak dapat menerimanya. Namanya Otto. Cowok yang kukenal sejak aku menimbah ilmu di kelas 1 SD. Teman sepermainanku. Hingga sekarang ini. Gila. Dulu dia pernah menjalin kasih dengan teman sekolahnya di bangku SLTP, tapi hanya sebentar dan lagi-lagi dia datang padaku. Memintamaaf dan memintaku jadi pacarnya. “Ayolah Ca…aku ga main-main” dia berusaha menyakinkanku “Roca” dia memanggil namaku sekali lagi “Sorry…Otto aku ga bisa. Aku ga mau menjalani sesuatu yang tidak aku tahu” aku memcoba menjelaskannya “Tapi bagaimana mungkin kamu bisa tahu kalau kamu tidak menjalaninya” dia berusaha menyakinkanku “Roca..!!!!! beri aku kesempatan” teriaknya “Roca!!!!!” Aku tidak tahu harus ngomong apalagi. Aku kehabisan kata-kata dan aku meninggalkannya sendiri. Aku tidak menghiraukan teriakannya memanggil namaku. Oh Tuhan berdosakah aku? Tolong beri petunjukmu agar aku tidak melukai hatinya…

http://kemudian.com/